Scene #01: TUBUH-TUBUH BERLESATAN SERUPA PERAHU.MEMASUKI CERITA DENGAN GELOMBANG DAN BIRU OMBAK; DAN MEREKA, TUBUH WAKTU. LANG KHOCEPAK!
(Jan onjhen, lang kochepak lang kocepung, nyello’ aeng gan sabakung, kapandi jagana tedung 3X, jabbur)
Beribu pulau telah kau singgahi sebagai tubuhku.diantara bongkahan batu dan daging, kau gambar negeri diatas air,tempat aku telanjang sebagai tubuh. Sebagai tubuh yang lepuh: yang meleleh seperti laut . Mengasini amis mimpi-mimpi.
Pantai telah sepi. Pasir-pasir di curi.
Pada layar-layar orang-orang bermimpi menjadi bayang-bayang.
Abrasi. Ah, menjijikkan!
Kau juga pernah singgah. Mengamini pandora dengan kardus-kardus yang besar. Sesekali kau perkosa aprodite dengan cakar-cakar panjang dan hitam.
Scene #02: TUBUH-TUBUH ITU SEMAKIN MENGGUMPAL. MENYERUPAI BENTUK-BENTUK; JENIS YANG BERBEDA; PERLAHAN-LAHAN MENGERAS TERKUTUK SEBAGAI BATU.
Liuk luka memerah
Seluas laut mengaliri jantungmu sebagai maut.
AKU hanyalah kerut carut-carut lukisan anak tak cukup usia.
(tembang ratapan)
Alismu melecutku seolah telenovela
Suatu hari. Aku singgahi wajahnya. Mencari palung, tempat aku pulang ketika senja; dan anak-anak menyimpannya sebagai dongeng tua; do’a-do’a ketakutan, cinta dan kepahlawanan. Mengirimi kita harapan. Tapi anak-anak itu telah berenang jauh kedermaga. Menjemputi sedih dan duka sebagai cerita.
Ya, terowongan panjang tempat mereka bermain kereta-keretaan; sebentar lenyap sebentar datang. Timbul tenggelam semerah dendam.
Jadikan aku Dempo Abang! Wow, kapalnya menyimpan sayap-sayap api.
Ah, Markopolo Bunk! Lelaki yang dengan kapalnya menancapkan kolonialisme sebagai tonggak kenangan. Keren kan?
Aru palaka,
Aku Sawiri Gading ...
Pinisi ...pinisi ... pinisi
Diam! Kita sedang berkabung nich!
Sepanjang asin ini. Laut tetaplah maut. Tempat setiap kisah menjelma takut; hantu-hantu yang memasuki setiap cerita dengan telinga.
Lantas, tiba-tiba kita telah telanjang. Sebagai aku; perahu, tubuh dan hiu.
Scene #03: WAKTU TELAH JATUH DI HALAMAN. POTONGANNYA BERLESATAN SEPERTI’AKU’. LANG KHOCIPUNG!
Ia dataaaaaaaaaaaaggg!!!
Mari saya ceritakan sejarah hantu kapal.
“di mulai dengan malam, hujan dan burung yang terkutuk bermata hitam, paruhnya melesak menusuk mulutnya sendiri! ; HANTU! Hujan memandikannya, dan merayunya dengan tumpukan sorga yang menggantung pada langit-langit kamar”.
Pada malam-malam yang lain. Paruhnya merah membara seperti mata setan.
Setaaaaaaaaaaaaaaaan!!!
Hingga aku kehabisan birahi. Aku lelaki ini yang menceburkan diri dalam laut seperti kapal yang terbalik. Mengumpulkan ikan-ikan, kerang dan ular. Memastikan diri sebagai benda-benda. Menulis nama TUHAN di tembok-tembok kota. Tapi tidak di kapal ini!
KAPAL HANTU!
HANTU KAPAL!
No comments:
Post a Comment