Sunday, March 25, 2012

MIMPI TANAH LOGAM

Oleh: A. Hamzah Fansuri B



Adegan 1
LAMPU FADE IN. MUSIK MENYALA.

Adegan 2
TOKOH 1 MASUK DENGAN BENDERA DAN LAMPU KAPLEK DITANGANNYA. LALU DI IKUTI TOKOH 2 DAN 3 SECARA BERGANTIAN
                                                                 
                                                                  TOKOH 1:
Pada purnama penghujung tahun ini, aku masih mengenangkan kepergian orang-orang tanah, kampung halaman. Entah sejak kapan dan berapa lama mereka pergi meninggalkan tanah kapur yang tandus ini. Yang kutahu, sejarah melihatnya semenjak orang-orang ditanah ini tak lagi mampu melihat hari tua tumbuh ditanahnya.
TOKOH 2:
 (Masuk dan langsung saja ikut menimpali) Dalam gelombang besar, mereka terhuyung-huyung mencari tempat dimana mereka bisa tinggal untuk menyambung hidupnya. Tanah logam, mereka menyebutnya. Dalam satuan angka, mereka telah tersebar ke seluruh penjuru dunia. Mereka menghuni setiap penjuru yang tanahnya banyak mengandung serpih-serpih logam. Dan dalam satuan angka pula, orang-orang disinipun mengimani para pendahulunya, berburu tanah logam.
TOKOH 3
Banyak hal yang mereka korbankan, mereka tinggalkan semata-mata untuk memenuhi hasrat dalam kepala mereka, demi hidup yang lebih baik di hari tua, katanya. Bukan saja anak dan istri atau suami, sejumlah kebiasaan, pikiran, ide-ide atau gagasan, jam-jam pribadi mereka; makan, minum, tidur, istirahat, mandi beribadah, sejumlah pekerjaan hingga jam persetubuhan mereka tinggalkan. (Kepada Tokoh 2) Begitu kan cerita Kakek?! (pause)
TOKOH 2:
(Mengangguk saja.)
TOKOH 1
Anak-anakpun kehilangan filosofi atas cerita-cerita santun, seruling gembala dan kicau burung-burung, kidung sore, tembang, koar irama pelaut menantang ombak dan sejumlah permainan tradisional yang dulu mereka ciptakan. Sementara di tanah logam, mereka membuat robot-robot dari waktu. Robot-robot itu membuat berita serupa reklame yang dipasang di sejumlah koran, teve dan brosur-brosur yang diterbangkan angin.
TOKOH 3 & 2
Lalu, anak-anak berhamburan menangkapnya, menyimpannya dalam dada, membuntalnya menjadi kiblat untuk tuhan yang baru di tanah ini. (pause)
TOKOH 1
Sementara kami yang telah mendapatkan kiblat baru, dalam gelombang cuaca yang buruk dan penuh kecemasan, kami berkirim kabar dan rencana pada bapak, ibu dan sanak saudara kami yang sibuk membuang limbah, menebar polusi, berkirim virus dan bakteri, perpaduan nafsu dan senyawa kimia. Hasrat-hasrat dikirim sebagai informasi, ya, begitu cepat seperti memindahkan data dari komputer.
TOKOH 2 & 3
Mereka selalu saja membalasnya dengan menuliskan nasibnya di surat kabar, tv, sms, dan internet yang mereka bayangkan sebagai jalan pulang; sungai-sungai air mata, pesta-pora tanpa peta, dan kerinduan yang panjang. (pause)
TOKOH 1
Iklim tak dapat diterka.
Musimpun tak menentu lantaran peradaban telah berubah.
Global warming!!!!
TOKOH 1, 2 & 3
Akhirnya, yang ada hanya menunggu musim dan musim menunggu yang panjang.
Lalu, kerinduan dan tanda tanya monumen tanpa kepala.

Adegan 3
LAMPU BERUBAH KOMPOSISI. FLASS BACK. MALAM BULAN PURNAMA. SUASANA TRADISI “TERANG BULAN”. MUSIK MENYALA RIANG GEMBIRA. TOKOH 2 DAN 3 MASUK, DISUSUL TOKOH 1. MEREKA BERKUMPUL DAN BERMAIN. MEREKA MEMAINKAN SEJUMLAH PERMAINAN TRADISIONAL YANG MUNGKIN DI JAMAN INI SUDAH TIDAK DIMAINKAN, BAHKAN HILANG SAMA SEKALI.
TOKOH 1
Woi, bulannya  purnama!
TOKOH 2
Iya, malam ini malam bulan purnama.
TOKOH 3
 Tera’ bulan rek!
TOKOH  4:
(Masuk dan berlari). Woi, ca-kanca…, tan-taretan sadhajha, ayo keluar !
TOKOH 5 & 6:
(Masuk dari arah yang berlainan) Ada apa Li ? iya ada apa?
TOKOH 4:
(Menunjuk ke atas) itu lihat, tera’ bulan. Sekarang malam bulan purnama.
TOKOH 6:
Kalau begitu, ayo kita bermain!
TOKOH 5:
Langsung…!
TOKOH 6
Eh tunggu, tunggu, Tapi kita mau main apa?
TOKOH 5
Gimana kalau kita main lar kolanjeng aja, setuju gak?
TOKOH 1, 2, 3, 4,
Oke ..Majulah…, ayo-ayo…!
TOKOH 7:
(Masuk dari arah yang berlainan pula) Woi, antos.., aku ikut!

MEREKA PUN BERNYANYI BERSAMA LALU DILANJUTKAN DENGAN BERMAIN-MAIN.

Tek buntek lar kolaceng, kolaceng ngekkean bunto’
Nganyang cappih rassa oto’
Kalemmar matanah cuko’
Bedeh olar budih.....(jawab:Bedeh.......................)
Nanca’ nabeng....(jawab:Nabeng..........)
Ritciririt cindhul kemma bunto’ roh ..........

TOKOH 6:
bosen main kayak gitu terus  Enaknya kita bermain apa  lagi ya¿
TOKOH 4:
Bagaimana kalau kita bermain petak umpetsaja!
TOKOH 5:
Terserah saja, pokoknya kita bisa senang dan gembira.
TOKOH 2:
Ya, ayo kita mulai.
                                                             

PERMAINAN REM-ERREMAN ATAU PETAK UMPET. MEREKA MULAI MENENTUKAN SIAPA YANG HARUS BERJAGA TERLEBIH DAHULU DENGAN “JUMPRIT”. DARI LOTRE TERSEBUT MUJI (TOKOH 3) MENDAPAT SIAL DENGAN MENDAPAT GILIRAN JAGA YANG PERTAMA. MUJI DENGAN BERAT HATI TAPI HARUS LAPANG DADA MENERIMA GILIRAN JAGI YANG PERTAMA.



Jumprit
lang-kaleng kercet
Kalomang-mangko’
Tabbhuwan bhutol… 3x

Tabbhuwan bhutol…
Tabbhuwan bhutol…

TOKOH 7:
(Menggiring Muji ke Pojok) Ayo, sekarang kamu jaga lebih dulu.
TOKOH 2:
Salah sendiri minta main petak umpet.
TOKOH 5:
Kena sendiri toh? (yang lain tertawa)
TOKOH 3:
Ah, sudah-sudah. Sekarang cepat sembunyi, aku hitung sampai sepuluh. Jadi atau tidak jadi harus jadi. Satu…, dua…,

PARA TOKOH LANGSUNG GEGABAH, PANIK DAN LANGSUG MENCARI TEMPAT  YANG TEPAT UNTUK BERSEMBUNYI.

TOKOH 6:
Antos …
TOKOH 1:
Jangan cepat-cepat.
TOKOH 5:
Tunggu sebentar.
TOKOH 3:
Sepuluh…., jadi tidak jadi harus jadi! (Membalikkan badannya dan mulai mencari.)
Woi…, dimana kalian! Ayo jangan sembunyi. (Tidak lama) Hei, siapa itu? (Dengan girang) Rambut-rambut…, Ipung, Ipung (lari dan pal) pal.
TOKOH 4:
(Muncul dari persembunyian). Woi, curang. Jangan di jaga terus dong pal-nya, curang.
TOKOH 3:
Biarin, week. (mencibir)
TOKOH 4:
Kalau begitu biar ku kasih kode sama teman-teman yang lain.
TOKOH 3:
Terserah. (sambil terus mencari)
TOKOH 4:
(Teriak) Woi, nak-kanak kalau aku bilang “kucing”, jangan keluar. Tapi kalau aku bilang “tikus”, keluar. “Kucing…”
TOKOH 3:
(kepada Tokoh 4) Hei, diam Pung…
TOKOH 4:
Biarin lha wong kamu jaga kandang kok! “kucing…, kucing…”, “tikus….”, “kucing,kucing…”, “tikuuuus……..”

PARA TOKOH KELUAR SECARA SEREMPAK DAN LANGSUNG MENYERBU PAL, TOKOH 3 PUN KEBINGUNGAN MENYEBUTKAN NAMA-NAMA PARA TOKOH. DAN…., PAL, PAL, PAL… TOKOH 3 TIDAK TERIMA DAN TIDAK MAU MELANJUTNKAN PERMAINAN. TOKOH 3 NGAMBUL, LALU SALAH SATU DARI MEREKA ADA MEMBUJUK (MERAYU) UNTUK BERHENTI MENANGIS. DIANTARA MEREKA ADA YANG MENDENGAR IRAMA MUSIK GOL-GOL DAN SRONEN YANG MENGALUN, LALU DI ANTARA MEREKA ADA YANG TIDAK TAHU PANCAK SILAT ITU SEPERTI APA. TOKOH 7 DAN TOKOH 1 MEMPERAGAKAN PENCAK SILAT, SEDANGKAN YANG LAIN MENONTON. PERTUNJUKAN TIBA-TIBA TERHENTI SETELAH SEORANG DARI ARAH LUAR PANGGUNG MASUK DENGAN MEMBAWA BERITA. DI TANGANNYA MENGGENGGAM SEBUAH SURAT KABAR SORE. MUSIK BERHENTI.
SEORANG (TOKOH 5) MASUK DENGAN BERLARI DAN BERTERIAK. IA MENGACUNG-ACUNGKAN SURAT KABAR YANG DIBAWANYA.

TOKOH 5:
Woi…, berhenti! Saya membawa berita dari sebuah surat kabar sore. Saudara-saudara kita di tanah logam sedang membanting tulang dan memeras keringat menggali tambang uang. Mereka butuh bantuan dan memanggil kita kesana.
TOKOH 3:
(Tidak percaya) Mana, mana…, coba lihat…! (diikuti tokoh-tokoh yang lain)

MEREKA MELIHAT DAN MEMBACA KORAN.

TOKOH 3:
Iya, benar. Ayo kita kesana. (yang lain meng”iya”kan)
TOKOH 5:
Ayo, kita susul!
SEMUA TOKOH:
Ayo, ayo….!
KELUAR DISUSUL JUGA YANG LAIN. MUSIK RANCAK MENGIRI KEPERGIAN ORANG-ORANG KE TANAH LOGAM. BLACK OUT.

Adegan 4
LAMPU FADE IN. MUSIK MESIN. DI TANAH LOGAM. ORANG-ORANG GIAT BEKERJA. MEREKA TERLIHAT MEKANIS. DI SELA-SELA KEGIATANNYA, MEREKA BERTANYA KABAR DAN KERINDUAN KEPADA KAMPUNG HALAMAN.

PEKERJA 2 (TOKOH 2):
Apa kabarmu Le’?
PEKERJA 4 (TOKOH 4):
Di sini udara terasa sangat panas dan menyesakkan.
PEKERJA 7 (TOKOH 7):
Aku teramat merindukanmu.
PEKERJA 6 (TOKOH 6):
Di sini hidup terasa sangat mekanis.
PEKERJA 1 (TOKOH 1):
Aku rindu bau tanah kampung kita.
PEKERJA 3 (TOKOH 3):
Sudahkah kau terima brosur-brosur dan sms yang kami kirimkan?
PEKERJA 5 (TOKOH 5):
Di sini kami masih menanti jawaban.
PEKERJA 3 (TOKOH 3):
Ya sudahlah kalau begitu kita pulang dulu sambil menunggu jawaban itu.kita bisa cari informasi dari surat kabar.

Adegan 5
SEMUA TOKOH KELUAR PANGGUNG KEMBALI KESUASANA ADEGAN KEDUA. KOMPOSISI LAMPU JUGA KEMBALI PADA ADEGAN KEDUA. MENYANYI TENTANG KERINDUAN DAN MEMBACA PUISI. MUSIK FADE IN MENGIRINGI PUISI. SEMENTARA MUSIK MERANCAK DAN MENINGGI, KORAN-KORAN BERJATUHAN. TOKOH 1 MENANGKAPI KORAN-KORAN YANG BERJATUHAN ITU, DISUSUL DENGAN TOKOH-TOKOH LAIN YANG DATANG BERHAMBUR. PADA AKHIRNYA SELURUH TOKOH, TUBUHNYA TERBUNGKUS OLEH KORAN-KORAN ITU.
                                                     



TOKOH 1:
Duh, Angen…
Padhapa’agi salam kerrong…
Salam dha’, rama ban ebu…
Salamma dhari Madhura…

Ya, tiada lain kecuali kerinduan yang menjadi lagu dan puisi.
 (Mengeluarkan secarik kertas kertas yang telah bertuliskan puisi)

Narasi Buih
Entah siapa yang telah ditinggalkan,
Tuhan, cinta, atau masa depan
Yang tergilas bersama tiupan angin yang berhembus sepanjang musim.

Sementara buih-buih masih terombang-ambing
Bersama angin darat yang terus datang
Ombak dan badai menghempasnya
Tanpa bersahabat.

Seketika, sebongkah karang terbelah petir
Sebelum sang nelayan mendapatkan ikan-ikan
Di hamparan jalanya
............................................................................
............................................................................

Pada purnama penghujung tahun ini,
Buih-buih tak berlabuh,
Di poros samudera masih terapung.

Ataukah anak setengah baya itu
Telah ditinggalkan mereka.
:semoga saja tidak,
  Sebab aku akan...?!

MASING-MASING TOKOH TUBUHNYA TELAH TERBUNGKUS KORAN. TAK BERDAYA. FADE OUT.

No comments:

Post a Comment