Langit
baru saja puas menangis. Pagi masih menyisakan titik-titik air di ujung daun.
Mentari tak begitu bergairah menerangi bumi pertiwi. Suasana serasa sunyi . Dan
kabut pun masih menggantung di angkasa.
Dibalik sebingkai
jendela, sosok gadis berdiri dengan tatapan kosong. Sesekali ia pejamkan
matanya sekedar mengurangi himpitan di dadanya. Air matanya meleleh. Kecewa,
sakit, dan cinta berkecamuk dalam hatinya. Membuat segumpal keresahan yang tak
pernah ia temukan ujungnya. Haura. Bidadari. Sebuah nama yang digelarkan
padanya sejak ia menyapa dunia barunya dengan jerit tangis melengking.
###
“Maafkan mas dinda . Mas benar-benar
khilaf. Saat itu mas tidak tau lagi harus berbuat apa. Yang ada dalam benak mas
hanyalah sebuah keyakinan bahwa jarak yang membentang diantara kita telah membuat
dinda melupakan mas. Dan mas langsung terima begitu saja saat dia menyatakan
bahwa dia siap untuk mengisi kekalutan hati mas. Sungguh mas tak pernah
bermaksud untuk menduakan cinta dinda Haura. Maafkan mas telah mengkhianati dinda“.
Kata-kata itu senantiasa terekam abadi dalam benaknya. Kata-kata yang mengalir
dari bibir orang yang sangat dicintainya, sehari setelah Hari Valentine.
Kata-kata yang telah meluluh lantakkan parasaannya dan menghancurkan hatinya. Sejak
saat itu kehidupannya seakan buram. Tiada cahaya. Sunyi. Tak ada yang bisa
dilakukan oleh gadis lemah sepertinya. Ia hanya mampu menangis. Menangisi
ketidak berdayaannya.
“. Masaku mencintaimu dengan segenap
jiwaku. Dan aku begitu percaya padamu. Tapi mengapa kamu begitu tega melukai
aku? Apa salahku? Tidak ingatkah mas pada cinta kita ? Mas pernah berkata bahwa
kita harus senantiasa menjaga hati kita untuk tidak saling mengkhianati. Tapi
mengapa begini adanyamas . . “ . Ucap Haura di sela isak tangisnya. Di luar
gerimis turun menemani bunga di taman.
“Aku sakit mas. Mengapa mas lakukan
semua ini padaku ? Setelah aku menyerahkan separuh jiwaku pada mas. Kamu jahat mas
. . . “ . Isaknya semakin jelas terdengar. Matanya nampak semakin sembab. Namun
air matanya seakan tak pernah
bisa berhenti menetes.
###
Kini hatinya benar-benar
hancur. Saat Haura tengah merenungi kisah cintanya, tiba-tiba ia merasa sesuatu
menyentuh pundaknya. Seketika Haura menoleh seraya menyeka air matanya.
“ Ana . . “ lirihnya hampir tak
terdengar. Matanya berkaca-kaca menetap sendu seseorang yang berdiri tegak di
hadapannya.
“ Sudahlah Haura jangan terlalu
larut dalam kesedihanmu. Jangan biarkan kabut menyelimuti hari-harimu “. Ucap
Ana seraya menghapus air mata Haura yang belum juga berhenti menetes.
“ Apa salahku An , Mengapa aku tak
pernah merasakan indahnya cinta itu . Apa
mungkin aku memang ditakdirkan untuk tidak pernah bahagia . . . “ . Jerit Haura
dalam pelukan Ana.
Seketika
itu Ana langsung memeluk Haura lebih erat. Membiarkan air mata Haura
menggenangi pundaknya. Ia sangat faham akan perasaan sahabatnya itu. Mereka
bersahabat sudah dari kecil. Melihat sahabat yang sangat dikasihinya menderita
luka batin, ia juga merasa sangat sedih. Tanpa bisa ia cegah lagi butiran
kristal pun mengalir dari kedua bola matanya.
“ Haura, mengapa kamu berkata
seperti itu. Itu sama sekali tidak benar. Kamu tidak boleh berburuk sangka
kepada Allah. Dia Maha Mengetahui apa yang tidak kita ketahui Haura. Sudahlah ,
relakan semua ini. Toh kamu sudah memaafkan Azka kan “ . Hibur Ana . Tangannya membelai
rambut Haura.
“ Tapi aku belum bisa menerima
kenyataan ini . MasAzka mengkhianati aku walau hanya sesaat “
“ Aku mengerti perasaan kamu Haura.
Lalu kenapa semudah itu kamu memaafkan Azka ?
Seketika Haura
melepas pelukannya. Haura menghembuskan nafas yang menyesakkan relungnya.
“ Aku sangat mencintainya. Aku tidak
mau kehilangan Azka . ia begitu berarti dalam hidupku “ .
“ Kalau bigitu berhentilah menangis
. Jangan biarkan air matamu terbuang sia-sia .
###
Gerimis sudah tak terlihat lagi .
Seiring berhentinya tetesan air mata Haura . Sinar mentari menembus kamar Haura,
namun tak jua mampu menembus gelap dihatinya. Tak ada lagi suara yang terucap dari
bibir keduanya. Sesekali terdengar desahan nafas Haura yang begitu berat.
“ Haura . . . “ .
“ Hm . . “ . Hanya itu yang keluar
dari mulut Haura .
“ Bukankah Elena adalah teman dekat
kamu ? ” . Tanya Ana sambil berjalan mendekati Haura yang tetap tak beranjak
dari balik jendela. Haura mengangguk lemah . Masih tanpa menoleh .
“ Tapi kenapa ia begitu tega
menyakiti kamu ? Teman macam apa itu “ . Tanya Ana . Wajahnya jelas menyiratkan
guratan heran . Haura tertunduk . Tak pernah terlintas dalam benaknya bahwa Ana
akan menanyakan hal itu padanya .
“ Karena Elena menyimpan perasaan
cinta pada mas Azka. Perasaan yang lama tertanam jauh sebelummas Azka
mengenal aku “ . Jelas Haura dengan suara bergetar.
“ Kamu tau dari mana ? “
“ Mas Azka sendiri yang mengatakannya
padaku kemaren “ .
“ Lalu kenapa Elena baru mengutarakannya
sekarang ? Kenapa tidak dari dulu saja , saat Azka belum menjadi milikmu “ .
Ana semakin tidak mengerti .
“ Entahlah . Aku juga tidak tau .
Mungkin saat itu ia masih tidak yakin pada hatinya . Sudahlah An , aku tidak
mau membahasnya lagi . Aku sudah terlalu sakit di buatnya . Entah apa salahku
padanya “ . Urai Haura . Ana membalik tubuh Haura . Menghadapkan pada dirinya .
“ Ya sudah jangan nangis lagi . Aku
ingin kamu tersenyum lagi . Seperti Haura yang aku kenal . Bukan Haura yang
rapuh . Aku yakin Azka juga sangat mencintai kamu . Jangan sampai masalah ini
menodai kesucian cinta kalian . And jadikan ini sebagai pelajaran dalam hidupmu
serta Valentine terburuk bagimu “ . Haura tersenyum getir. Matanya berkaca-kaca
mengingat Valentine kelabunya. Dipeluknya Ana dengan sangat erat.
###
Keesokan harinya, sinar sang surya
menembus celah-celah kamar Haura. Menerpa tepat diwajahnya . Dengan mata yang
masih separuh terbuka Haura melirik jam yang di dinding kamarnya. Seketika ia
terperanjat
“ Ya
Allah aku belum sholat subuh”. Ucapnya seraya beranjak ke kamar mandi. Selesai
mandi ia sholat dluha karena waktu subuh sudah lewat.
“ Ya
Allah, kini hambamu yang lemah ini kembali datang mengetuk pintu rahmat-Mu.
Memohon ridlo-Mu. Tabahkan hatiku ya Allah. Selipkan setitik rasa ikhlas di
hati ini. Hamba sangat mencintai mas Azka, mincintainya karena Mu. Hamba
titipkan rasa cinta ini pada-Mu wahai Dzat Yang Maha pemberi cinta”.
###
Hari masih belum terlalu siang saat
Haura duduk di atas batu yang berada di tengah taman bunga mawar . Dalam
kesendiriannya terlintas kembali peristiwa yang menghancurkan hatinya. Butiran
bening pun kembali menggelinding dari bola matanya. Tiba-tiba . .
“
Assalamu’alaikum cinta . . . “
Haura
mengerjapkan matanya seakan tak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.
“
Mas Azka ! Benarkah itu suaramu mas ? “. Gumam Haura dalam kagetnya.
“
Kenapa tidak menjawab salam dari mas dinda Haura ? “
Haura menoleh.
Ditatapnya seorang lelaki yang berdiri tak jauh darinya. Matanya berkaca-kaca.
“ Wa . . Wa’alaikum salam sayang
“. Jawab Haura terbata-bata. Suaranya
terasa tercekat di tenggorokannya. Dengan sisa-sisa kekuatannya, Haura mencoba
berdiri saat Azka mendekat dengan senyum manisnya.
“
Akankah senyum manismu itu sudah terbagi mas ? “ lirihnya dalam hati
“
Kau baik-baik saja dinda? “ tanya Azka saat berada tepat di depan Haura.
Haura tak
menjawab. Ia menunduk, menyembunyikan air matanya. Ia kembali duduk di atas
batu.
“
Kuatkan hatiku ya Allah. Hadirkan keikhlasan di hatiku”. Jerit hati Haura.
“
Dinda, apakah kau sudah benar-benar ikhlas mema’afkan mas ? “. Ucap Azka seraya
duduk di rumput depan Haura. Ia tau Haura begitu terluka. Dipegangnya erat
tangan Haura. Dingin . ia dapat rasakan betapa dalam luka di hati kekasihnya
itu.
“
Dinda . .”
“
Kenapa mas bertanya seperti itu ? “ ucap Haura disertai isaknya.
“
Mas bisa merasakannya dinda. Sebelum air mata dinda berhenti menetes, itu
artinya dinda belum ikhlas mema’afkan mas “. Tak satu pun kata terucap dari
bibir Haura. Ia malah semakin terisak.
“
Sayang, dinda boleh menampar mas, membenci mas, bahkan membuang mas secara
tidak hormat dari kehidupan dinda mas rela. Asal dinda puas dan bisa mem . . .”
“ Sstt” Haura memotong ucapan Azka dengan menempelkan telunjuknya
di bibir Azka.
“
Dinda ikhlas mema’afkanmu mas “ ucap
Haura dengan bibir tersenyum.
“
Benarkah itu dinda? “
Haura
mengangguk pelan. Azka mengusap air mata Haura dengan tangannya.
“
Bolehkah mas memelukmu dinda ? “
Haura
tersenyum. Dipeluknya Haura dengan sangat erat. Seakan tak ada yang bisa
memisahkan mereka, selain kematian.
“
Terima kasih dinda. Mas janji ini akan menjadi terakhir kalinya mas melukai
hati dinda. Mas janji sayang . Ma’afkan mas telah menyia-nyiakan dinda “. Ucap Azka bersungguh-sungguh.
“
Terima kasih ya Allah telah Engkau anugerahkan rasa ikhlas ini di hati
hamba.Lakalhamdu ya robbi, wabarokallahu lana” lirih Haura dalam hati.
“
Azka aku mencintaimu . Kejadian ini tak
akan sedikit pun mengurangi rasa cinta dan sayangku padamu “ . Gumam Haura. Ia
juga sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Ana.
Seketika dunia kembali cerah.
Angin berhembus mesra. Membelai lembut
keagungan cinta. Memang cinta yang tulus akan mengalahkan segalanya.
###
Tak jauh dari mereka, sepasang mata menatap penuh air mata.
Sepasang mata Elena.
“
Ternyata benar, aku memang tidak akan pernah bisa menembus kekuatan cinta Azka
dan Haura “ ucapnya dengan pandangan nanar.
“ Selamat tinggal Azka. Semoga kau bahagia dengannya. Terima kasih
pernah hadir di hidupku”. Elena pergi meninggalkan tempat itu dengan membawa
puing-puing hatinya yang hancur.
by
Fifin el Dina
No comments:
Post a Comment