Oleh : Djamal eL-Din
Diatas hamparan batu yang terjal
Kulukis parasmu diantara langit dan bumi
Meski badai tak pernah usai
Ingin ku tatap matahari
Ingin ku tatap rembulan
Ingin ku tatap bintang gemintang
Hingga......
Air mata langit menetes perlahan
Membanjiri perut bumi yang kerontang
Dan menghijaukan dedaunan yang meradang
Tapi...
Langit telah merangkul kebekuan cinta
dan nurani terkubur bersama guntur dan halilintar
Ku peram sukmaku di ketiak matahari
Ku semai benihmu dalam lambai dan salam
Lalu...
Mataku bagai riak-riak telaga
Yang di hembus matahari
Hingga akupun diam membisu
Bagai pencalang yang kehilangan dayuh dan sauh.
No comments:
Post a Comment